Minggu, 18 Maret 2012

SEJARAH PERKEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN INDONESIA


Sejarah Perkembangan Kelautan dan Perikanan di Indonesia

Pendahuluan
PERIKANAN ADALAH SEGALA SESUATU KEGIATAN DAN KAJIAN MANUSIA YANG BERKAITAN DENGAN USAHA PEMANFAATAN KEKAYAAN SUMBERDAYA HAYATI MAUPUN HEWANI UNTUK KEPENTINGAN KEHIDUPAN UMAT MANUSIA (Wirutalingga, 1978).
USAHA PERIKANAN ADALAH SEMUA USAHA PERORANGAN ATAU BAHAN HUKUM UNTUK MENANGKAP ATAU MEMBUDIDAYAKAN (USAHA PENETASAN, IKAN TERMASUK KEGIATAN MENYIMPAN, MENDINGINKAN ATAU MENGAWETKAN IKAN) DENGAN TUJUAN UNTUK MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH EKONOMI BAGI PELAKU USAHA (KOMERSIL/BISNIS)
PERKEMBANGAN PENGETAHUAN KELAUTAN PERKEMBANGAN             TEKNOLOGI PEMANFAATAN TEKNOLOGI PEMANFAATAN SUMBERDAYA LAUT

SEJARAH PERIKANAN DUNIA
n Salah satu sejarah perdagangan dunia yang tertua yaitu perdagangan ikan cod kering dari daerah Lofoten ke bagian selatan Eropa, Italia, Spanyol dan Portugal. Perdagangan ikan ini dimulai pada periode Viking atau sebelumnya, yang telah berlangsung lebih dari 1000 tahun, namun masih merupakan jenis perdagangan yang penting hingga sekarang.
n Di India, Pandyas, kerajaan Tamil Dravidian tertua, dikenal dengan tempat perikanan mutiara diambil sejak satu abad sebelum masehi. Pelabuhan Tuticorin dikenal dengan perikanan mutiara laut dalam. Paravas, bangsa Tamil yang berpusat di Tuticorin, berkembang menjadi masyarakat yang makmur oleh karena perdagangan mutiara mereka, pengetahuan ilmu pelayaran dan perikanan.
SEJARAH PERIKANAN INDONESIA
n Pada abad permulaan Masehi, hubungan pelayaran mulai berperan dalam melintas laut.
n Pada Abad 5 telah terjalin hubungan dengan pedagang- pedagang Arab dan Cina
n Sekitar abad 8 terdapat relief didinding Candi Borobudur yg menggambarkan bentuk perahu layar yang cukup maju bertiang ganda.
n Pada abad 13 dalam buku Kutaramenwa tertulis undang2 tentang siwakan( pengelolaan air) yg diduga merupakan awal dimulainya pertambakan di Jawa Timur.
n Indonesia merupakan negara kepulauan dengan posisi silangnya yang sangat strategis. Terletak di antara dua benua dan dua samudra. Luas kepulauan Indonesia adalah 9,8 juta km2 (seluruh wilayah Indonesia), dan luas wilayah lautnya 7,9 juta km2. Posisi silang yang strategis menyebabkan Indonesia mempunyai peranan penting dalam lalu lintas laut
n Laut Indonesia pada awalnya diatur berdasarkan Ordonansi 1939 tentang Wilayah Laut dan Lingkungan Maritim yg menetapkan laut teritorial hanya selebar 3 mil, yang merupakan hukum laut warisan Hindia Belanda
n Lebar 3 mil ini merupakan gambaran dari pandangan yg berlaku tentang lebar laut teritorial kala itu sbg kebiasaan internasional sebelum adanya konferensi Kodifikasi Den Haag thn. 1939
n Pada tgl 13 Des 1957 Pemerintah Indonesia mengumumkan Lebar laut teritorial sebesar 12 mil atau lebih dikenal dengan sebutan Deklarasi Djuanda
n Deklarasi Djuanda ini telah menjadi dasar lahirnya Wawasan Nusantara, dan ini merupakan upaya melindungi kawasan laut kita
n Pada tgl 10 Desember 1982 Konfrensi Hukum Laut PBB III (UNCLOS 1982) yang ditandatangi oleh 119 negara. Berdasarkan kesepakatan tersebut wilayah perairan Indonesia meliputi batas laut teritorial, batas landas kontinen, dan batas zona ekonomi eksklusif.
n Pada tgl 13 Des 1957 Pemerintah Indonesia mengumumkan Lebar laut teritorial sebesar 12 mil atau lebih dikenal dengan sebutan Deklarasi Djuanda
n Deklarasi Djuanda ini telah menjadi dasar lahirnya Wawasan Nusantara, dan ini merupakan upaya melindungi kawasan laut kita
n Pada tgl 10 Desember 1982 Konfrensi Hukum Laut PBB III (UNCLOS 1982) yang ditandatangi oleh 119 negara. Berdasarkan kesepakatan tersebut wilayah perairan Indonesia meliputi batas laut teritorial, batas landas kontinen, dan batas zona ekonomi eksklusif.
1.    Batas Laut Teritorial
Batas laut teritorial adalah suatu batas laut yang ditarik dari sebuah garis dasar dengan jarak 12 mil ke arah laut. Di dalam batas laut teritorial ini, Indonesia mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya. Negara lain dapat berlayar di wilayah ini atas izin pemerintah Indonesia.

2.    Batas Landas Kontinen
Landas kontinen adalah dasar laut yang jika dilihat dari segi geologi maupun geomorfologinya merupakan kelanjutan dari kontinen atau benua. Kedalaman landas kontinen tidak lebih dari 150 meter. Batas landas kontinen diukur mulai dari garis dasar pantai ke arah luar dengan jarak paling jauh adalah 200 mil. Kalau ada dua negara yang berdampingan menguasai laut dalam satu landas kontinen dan jaraknya kurang dari 400 mil, batas landas kontinen masing-masing negara ditarik sama jauh dari garis dasar masing-masing. Kewajiban negara ini adalah tidak mengganggu lalu lintas pelayaran damai di dalam batas landas kontinen.
3.    Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia sepanjang 200 mil, diukur dari garis pangkal wilayah laut Indonesia. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) adalah wilayah laut sejauh 200 mil dari pulau terluar saat air surut.

Era Baru Penelitian Kelautan dan Perikanan
n Portugis ke Malaka (1511) kemudian disusul Belanda ke Banten (1596)        peta laut dlm upaya mencari jalur pelayaran untuk perdagangan
n Pelayaran semakin pesat pada era ini tapi hanya dipandang sbg media komunikasi untuk perdagangan saja tanpa memperhatikan laut serta isinya.
n Sekitar tahun 1600 penelitian tentang kelautan dimulai
n Dilihat dari perkembangannya, penelitian Kelautan di Indonesia dapat dibagi menjadi 4 periode yaitu :
2. 1800 – pertengahan 1900
n Pada priode ini disebut priode pasang surut
n Tarik menarik politik pesisir dan pedalaman menandai maju mundurnya perekonomian Indonesia
n Ex. Jawa. Horben (1994) membagi menjadi 3 priode yaitu (1) 1600- 1755 dimana terjadi perubahan orentasi politik dari pesisir ke pedalaman atau dari perdagangan ke pertanian yang ditandai dengan naik turunnya kekuasaan Mataram (2) 1755-1830 Jawa terpecah belah dan berakhir dengan perang. Belanda memanfaatkan momen ini dengan serial kerjasama pengembangan pertanian tanaman ekspor dengan penguasa jawa. (3) 1830- 1870 periode ini ditandai dengan berlakunya tanam paksa
n Akhir 1800 telah berorentasi pada pasar yang ditandai dengan pertumbuhan spektakuler usaha pengelolaan dan pemasaran ikan
n Pada tahun 1850 Jawa telah menjadi pasar terpenting produk perikanan khususnya ikan asin dan terasi
n Awal abad 20 Kota Bagan si Api-api di mulut sungai Rogan telah menjadi salah satu pelabuhan perikanan terpenting di dunia tetapi tahun 1912 mengalami kemunduran karena masalah pajak, kredit dan ekologi.
n 1870 an – 1930 oleh Butcher (2004) disebut sebagai menangkap ikan lebih banyak dengan teknologi yang sama. Periode ini diikuti oleh perubahan teknologi dan perluasan daerah penangkapan sebagai akibat moderenisasi perikanan dan semakin langkanya ikan di daerah pinggiran (1890an – 1930 an).
n Masuknya kapal- kapal jepang dengan teknologi yang lebih maju.
3. Awal kemerdekaan dan akhir Orde lama : Pertarungan Politik
n Kebijakan ekonomi di era ini banyak tdk dilaksanakan karena berbagai pergolakan politik
n Terpuruk pada waktu ekonomi terpimpin antara tahun 1959- 1965 dengan inflasi mendekati 500%
n Konsepsi Archipelago yg diperkuat dengan UU No.4 prp.1960 tentang perairan Indonesia yg diikuti Keppres 103/1963 untuk memberikan pengertian lebih luas tentang lingkungan maritim
n Era ini setelah mengimpor ikan di awal era kemerdekaan, produksi perikanan terus meningkat dari 320 ribu ton pada tahun 1940 menjadi 324 ton pada tahun 1951, kemudian menjadi 661 ribu ton pada tahun 1965.
n Produktivitas per kapal menurun dari 4 ton (1951) menjadi 2,8 ton (1965). Begitu juga produktivitas nelayan turun dari 1 ton menjadi 0,7 ton.
n Basis perikanan pada era ini sepenuhnya di daerah pantai dan hanya sedikit industri perikanan modern yang berkembang (Krisnandhi, 1969).
4. Orde baru :Terabaikan dan Dualisme Ekonomi Perikanan
n Keberhasilan orde baru seperti memanfaatkan “durian runtuh” dalam perekonomian Indonesia sejak tahun 1966 akan tetapi pengelolaan SDA buruk.
n Produksi perikanan pada era ini meningkat dari 721 ribu ton (1966) menjadi 1.932 ribu ton (1986) dan terus meningkat menjadi 3.724 ribu ton (1998) (Hill, 1996)
n Di era ini konflik antara perikanan skala besar dan kecil mewarnai sejarah perikanan laut sbg akibat dualisme struktur perikanan.
n Dualisme perikanan ditujukkan oleh Bailey (1998) pada dua kasus penting yaitu 1) introduksi trawl dan purse seine dan 2)pengembangan budidaya udang.

5. Pasca Reformasi : harapan menjadi “ Prime Mover”
n Struktur perikanan laut di era ini belum banyak bergeser dimana perikanan skala kecil masih dominan yg ditunjukkan oleh 75% armada perikanan dalam periode 1999- 2001 tumbuh 2,5% per tahun sedangkan armada perikanan mulai tumbuh terbatas yaitu di bawah 1% per tahun. Pertumbuhan nelayan lebih tinggi dari armada perikanan dan mendekati pertumbuhan produksi (2,1%).
n Berdasarkan Nota keuangan dan APBN tahun 2000-2005, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) perikanan meningkat pesat dari Rp 52 milyar (2000) menjadi 450 milyar (2003). Pada PNBP 2004 mengalami penurunan menjadi 282,8 milyar dan target 2005 sebesar 700 milyar. Akan tetapi pada tahun 2005 tidak tercapai karena belum optimalnya perjanjian bilateral dengan Cina, Filipina dan Thailand.
n Kondisi ini menjadi satu tantangn bagi sektor perikanan dan kelautan untuk menjadi salah satu “the prime mover” atau “main stream” ekonomi nasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar tentang kiriman ini untuk keamajuan dan kebaikan kiriman